jaesweats

Pergantian tahun sudah di depan mata. Gandi serta calon istrinya pun telah tiba di kediaman Arsen tepat pada pukul delapan malam. Keduanya disambut hangat oleh si tuan rumah, Nala, Mama dan Gavi yang tak henti mengoceh.

Mereka semua pun berkumpul di area kolam renang, dimana telah tersedia pemanggang juga meja dimana mereka akan menyantap makanan nantinya. Meski begitu, kehadiran Gandi dan calon istri tidak membuat mereka langsung memulai acara. Sebab masih ada Endra yang belum menampakkan diri dan mereka yang ada di sana pun masih sibuk untuk mengenal lebih dekat lagi calon istri Gandi.

Sampai tidak lama setelahnya, Endra akhirnya tiba di tempat mereka bercengkrama. Namun yang membuat Arsen berang, dia justru melihat sahabatnya datang bersama Bagas. Padahal, dia dan Nala sendiri tidak mengundang sutradara itu. Arsen pun seketika berdiri saat Endra menghampiri.

“Ngapain lo ke sini bareng dia?”

Melihat sikap ketus Arsen, Nala yang duduk di samping mantan pacarnya itu pun refleks meraih tangan Arsen, menggenggamnya. Nala berusaha memberitahunya secara tersirat agar Arsen tidak terbawa emosi dan memicu api.

“Bagas datang ke rumah gue pas gue mau ke sini,” kata Endra. “Dia mau ngajakin gue tahun baruan di luar. Ya udah, sekalian gue ajak ke sini. Dia kan temen Nala juga.”

Nala mengangguk, “Maaf ya, Gas. Gue gak ngasih tau lo. Gue kira lo bakalan tahun baruan di Bali, soalnya sore tadi lo bilang kalau lo masih di sana pas gue tanya.”

“Gak apa-apa, Nal. Gue juga pas baru nyampe Jakarta langsung ke rumah Endra, ternyata dia udah ada planning acara sama kalian.”

“Ternyata?” Arsen menyeringai, “Lo ngomongnya seolah lo gak tau kalau Endra itu sahabat gue dan bakal tahun baruan bareng.”

Melihat suasana di tempat itu nyaris tidak kondusif lagi, Nala pun berdiri. Dia lalu mendelik ke Arsen sejenak sebelum menatap Bagas dan Endra bergantian.

“Ya udah, karena kalian datang belakangan, kalian bantu gue ke dalam buat ngambil bahan yang mau kita pake.” Nala berusaha mengalihkan topik. “Oh iya, ini kenalin juga calonnya si Gandi.”

“Erika.”

Calon istri Gandi pun berjabat tangan dengan Endra dan Bagas sambil tersenyum ramah. Sedang Arsen masih menatap tajam pada Bagas. Sontak hal itu membuat Nala berbisik di samping Arsen.

“Jangan ngerusak suasana deh, Sen. Calm down a bit,” katanya.

Arsen menghela napas panjang sejenak tanpa melepas tatapan tajamnya dari Bagas. “Gue mau ngomong berdua sama lo, Gas.”

Bagas mengangguk kecil lalu mengikuti langkah Arsen yang menuntunnya untuk menjauhi orang-orang di tepi kolam sana. Merasa sudah cukup jauh, Arsen pun berbalik hingga kini dia dan Bagas berdiri saling berhadapan.

“Lo pengen apa dari Endra?”

Bagas memicing, “Gue gak ngerti maksud dari pertanyaan lo, Sen.”

“Lo pengen manfaatin dia karena dia itu orang kepercayaan gue?” tanya Arsen. “Lo masih berusaha ngerebut Nala dari gue melalui Endra? If it’s so, let me tell you…”

It won’t work,” tegasnya.

Bagas tersenyum tipis, “Gue tau. Mau gue pakai cara apapun juga, siapa sih yang bisa ngerebut Nala dari lo? Pada akhirnya gue cuma bakalan jadi Tristan kedua kalau gue tetep nekat buat mencoba.”

I don’t have any bad intentions for Endra either.” timpal Bagas.

“Justru gue ikut ke sini karena gue mau move on bareng dia.” katanya. “Gue tau Endra abis patah hati, tapi baru beberapa waktu yang lalu gue tau siapa alasan di balik patah hatinya.”

“Lo bener. Gue emang udah tau kalau Endra ada planning acara sama kalian.” jelas Bagas. “Tapi yang gue tau juga Endra ngerasa gak sanggup buat dateng malam ini. Bahkan sampai sore tadi, dia masih ragu. Dia bilang mungkin dia bakalan tahun baruan sendiri aja daripada harus ngeliat crush dia lagi bareng calon istrinya...”

“Makanya gue juga mutusin buat kelarin urusan gue di Bali terus buru-buru pulang supaya Endra gak tahun baruan sendiri,” lanjut Bagas. “Tapi pas gue ke rumah dia, ternyata dia udah siap-siap buat ke rumah lo. Karena Endra pengen berdamai sama hatinya sendiri dan belajar buat move on.”

“Dan karena gue juga ngerasain hal yang sama kayak Endra, gue gak pengen ngeliat dia berjuang buat move on sendiri. That’s why i’m here. Gue mau nemenin dia.”

“Oke, alasan lo kali ini masih gue terima.” Arsen lalu mengikis jarak tubuhnya dengan Bagas. “Tapi kalau sampai lo punya niat nggak baik dan nyakitin sahabat gue, lo bakal tau sendiri akibatnya, Gas.”

Bagas mengangguk lalu melirik ke arah Endra yang masih berdiri di tempatnya tadi. Dia kemudian tersenyum tipis saat tatapannya dan Endra bertemu. Sementara itu, Arsen yang memerhatikan keduanya seketika memicing.

“Ngapain lo senyam-seyum di sini?” ketus Arsen. “Tadi Nala nyuruh lo ngambil bahan-bahan di dalam rumah kan? Pergi sana.”

“Temenin gue dong, Sen.”

“Coba ngomong sekali lagi.” kata Arsen, membuat Bagas terkekeh sebelum meninggalkan si aktor.


Tahun telah berganti satu jam yang lalu. Pesta malam tahun baru yang mereka adakan pun berlangsung lancar hingga usai.

Kini, semua tamu di rumah Arsen telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Kediaman sang aktor yang tadinya ramai lantas telah sunyi. Mama dan Gavi yang menginap di sana pun masing-masing sudah berlabuh ke alam mimpi. Hanya Arsen dan Nala lah yang masih asik bercengkerama.

Keduanya duduk di balkon kamar lama Nala. Ada dua kaleng beer kesukaan mereka yang seolah menjadi suguhan penutup seusai pesta. Banyak hal yang menjadi topik perbincangan kedua anak manusia itu. Dari yang mampu membuat mereka tertawa kecil hingga meneteskan air mata.

“Oh iya, Sen. Pas gue abis nuduh lo terus marah-marah sama elo waktu itu, lo kabur ke mana sih?”

“Ke sini,” kekeh Arsen. “Gue juga duduk di sini sambil minum bir.”

“Gue juga denger Gandi datang nyariin gue,” timpalnya. “Tapi karena gue gak keluar-keluar juga, dia mungkin mikir kalau gue lagi gak ada di rumah ini.”

“Gue sama Gandi khawatir tau. Udah handphone lo mati. Mami Papi lo juga gak tau lo di mana,” Nala menghela napas sebelum menyandarkan kepalanya pada bahu Arsen. “Gue pikir gue udah kehilangan lo. Gue kacau banget.”

Arsen tersenyum tipis lalu ikut menyandarkan kepalanya pada kepala Nala. “Gak usah diinget lagi. Kan gue udah ada di sini.”

“Mm,” Nala tersenyum.

“Nal.”

“Apa?”

Where’s my gift, anyway?

Nala mendengus lalu perlahan mengangkat kepalanya. Begitu pun Arsen yang lantas menatap wajah Nala diikuti senyum tipis.

“Sen, makasih ya udah nemenin gue di another tahun terberat dalam hidup gue setelah kita putus.” ucap Nala. “Gue gak tau gue bakal gimana kalau aja kita gak ketemu lagi pas Mas Tristan ninggalin gue. Gue juga gak tau bakal gimana kalau gue gak liat gimana usaha lo buat dapetin gue lagi setelah nunggu lama.”

Arsen mengangguk pelan. Dia pun membelai lembut pipi kiri Nala dengan ibu jarinya sesaat.

“Gue, lo dan siapapun itu, emang gak akan pernah ada yang tau hal apa aja yang bakalan terjadi esok atau lusa.” kata Nala. “Tapi… Gue yakin, selama gue selalu bareng lo kayak gini, gue nggak bakalan ngalamin tahun terberat dalam hidup gue lagi, because it’s you.”

“Lo yang selalu ada buat gue. Lo yang selalu nguatin gue. Dan lo juga yang terbaik buat gue, Sen.”

Arsen menutup mata ketika Nala mengecup bibirnya. Arsen lalu memberikan akses kepada Nala untuk melumat celah ranum itu.

Pagutan yang tercipta di antara mereka tidak didominasi nafsu. Nala dan Arsen sama-sama larut dalam romansa yang berpadu dengan sunyi nan tenangnya malam. Ciuman itu seolah saling menggambarkan perasaan haru di balik dada mereka akan fakta bahwa keduanya kembali bersatu dalam rasa dan harap yang sama.

Mereka hanya ingin tetap saling mencinta dan bersama hingga di hari tua dan maut memisahkan.

Cukup lama saling memadu rasa manis dari celah ranum mereka, Nala lantas menyudahi ciuman itu. Pasalnya, dia merasa bahwa pipinya basah. Padahal, dia tak menitikkan air mata. Sudah jelas bahwa Arsen lah yang menangis.

“Jangan nangiiis,” Nala terkekeh sambil menyeka air mata Arsen.

“Kita belum nikah,” bisik Nala.

Arsen akhirnya tertawa. Dia lalu mendekap erat tubuh Nala dan berkata, “Ya udah. Sekarang lo tidur. Gue juga mau ke kamar.”

Nala mengangguk. Pelukannya dan Arsen pun terlepas setelah mereka puas berbagi kehangatan selama beberapa detik. Nala lalu menutup mata saat Arsen tiba-tiba mengecup lembut dahinya.

“Tidur yang nyenyak ya, Nal.”

“Iya, lo juga.”


Arsen yang semula menyibukkan diri dengan menyirami tanaman di halaman rumah lantas melirik ke arah pagar. Sebab, pagar itu tiba-tiba digeser dan dibuka dari luar. Sampai tak lama setelahnya, Arsen seketika mendapati Nala datang dari luar sana. Nala pun kembali menutup pagar sebelum menghampiri Arsen yang tengah berdiri dan memegangi selang.

“Gue bawain sarapan,” kata Nala.

Arsen memasang raut yang tak menunjukkan ekspresi berarti. Dia pun hanya mengangguk lalu menunjuk ke arah teras rumah dengan dagu sebelum berkata.

“Lo masuk aja dulu, Nal. Ntar gue nyusul. Gue masih belum nyiram semua tanaman,” katanya datar sebelum dia membuang muka ke tanaman, kembali menyiraminya.

Ketika Nala akhirnya berjalan ke arah teras rumah dan perlahan menjauhinya, Arsen diam-diam mencuri pandang. Sampai saat dia melihat Nala meletakkan tas belanja yang dia bawa di teras lalu hendak berbalik ke arahnya, Arsen pun kembali memandangi tanaman yang sedang dia sirami.

Arsen menunggu apa yang akan Nala katakan. Namun, di luar isi kepalanya, mantan pacarnya itu justru tiba-tiba memeluknya dari belakang. Nala menyandarkan pipinya di punggung Arsen lalu bersuara; nyaris seperti bisikan.

“Gue ngerti kok lo takut kalau aja Gavi gak nerima lo karena masih ada Ayahnya yang selalu datang buat dia.” kata Nala. “Tapi di satu sisi, gue nggak mau Gavi ngerasa kalau gue berusaha bikin dia jauh dari Mas Tristan. Apalagi belum lama sejak Ayahnya itu balik lagi.”

“Gue cuma gak pengen timbul pikiran di kepala Gavi kalau gue jahat dengan nggak ngizinin dia buat ketemu sama Mas Tristan.”

“Gue minta maaf kalau ucapan gue ke lo tadi udah nyinggung perasaan lo. Ya?” timpal Nala.

“Gue bakal berusaha buat bikin Gavi nggak ketemu Mas Tristan seintens itu sebelum Gavi bisa terima lo jadi Ayah barunya,” kata Nala. “Gue juga bakalan berusaha ngasih anaknya pengertian kalau Mas Tristan tuh gak bisa sering datang, apalagi kalau sewaktu-waktu Ayahnya udah nikah lagi.”

Arsen menghela napas panjang sebelum menjatuhkan selang air yang dia pegang ke tanah. Arsen kemudian melepaskan pelukan Nala di pinggangnya lalu berbalik dan menatap Nala lamat-lamat.

“Gue juga nggak mau kok Gavi ngerasa dilarang buat ketemu Ayahnya, Nal.” balas Arsen. “Tapi yang gue permasalahin, bisa gak mereka ketemunya gak se-intens itu sebelum gue ngobrol ke Gavi kalau gue pengen jadi Ayahnya?”

“Kalau setiap Gavi butuh sesuatu dan yang dateng masih suami lo, kapan Gavi bisa ngerasa gue juga mau selalu ada buat dia?” tanya Arsen. “Gue tau, gue yang harus berusaha ngeluluhin Gavi, tapi gue juga gak mau Gavi ngerasa kalau gue berusaha ngerebut lo dan ngerebut posisi Ayahnya.”

“Gue pengen Gavi tau kalau dia bisa punya dua Ayah kok tanpa harus ngeliat lo sama Tristan serumah lagi,” Arsen menarik napas dalam-dalam saat merasa dadanya sedikit sesak. “Gue juga minta maaf kalau kesannya gue marah-marah ke lo di WA tadi.”

Arsen lalu mengusap lembut pipi Nala dengan ibu jarinya. “I didn’t mean that. Gue gak mau kita jadi berantem lagi gara-gara itu, Nal.”

Nala mengangguk kecil sebelum mendekap erat tubuh Arsen. Dia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang mantan pacar sambil memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh Arsen. Pun sebaliknya. Arsen mendekap tubuh Nalanya tidak kalah erat.

“Lo belum mandi ya?”

Arsen terkekeh, “Mm. Gue bau?”

Nala menggeleng pelan sebelum mendongak, memandang Arsen.

“Lo gak bau, tapi gue bisa bedain wangi alami tubuh lo sama wangi lo kalau udah kena parfum.” kata Nala, sedang Arsen tersenyum.

You’re down so bad, love.”

Nala mendengus lalu memungut selang air yang tadi dijatuhkan Arsen. Setelahnya, Nala seketika mengarahkan selang itu ke arah Arsen dan menyemprotkannya hingga baju sang mantan basah. Sontak Arsen berteriak histeris karena dinginnya air dari sana.

“Nal! Udah!” Arsen tergelak. “Gue udah basah kuyup, Nal. Dingin.”

“Biarin, lagian lo belum mandi kan?” balas Nala santai sambil terus menyemprotkan air ke tubuh Arsen. “Nih, seger kan?”

Mendesis pelan, Arsen lantas merebut selang air itu dari tangan Nala. Dia kemudian membalas perlakuan mantan pacarnya itu hingga kini baju Nala juga telah basah. Mereka pun terus berebutan selang air layaknya anak-anak yang sedang asik bermain. Sampai saat Nala merasa bajunya sudah terlampau basah, dia lantas mengusulkan gencatan senjata. Dia menyerah.

“Sen, udah. Baju gue udah basah banget nih,” decaknya. “Gimana gue pulangnya coba kalau gini?”

“Lo bisa ganti baju pake baju gue, Nal.” sahut Arsen. “Atau kalau lo pengen telanjang di dalam rumah sambil nunggu sampai baju lo itu kering juga gak apa-apa banget.”

“Brengsek,” gumam Nala sebelum kembali menyemprotkan air ke arah Arsen sekali sebelum lelaki berlesung pipi itu menutup kran.


Setelah sama-sama berganti baju dan mengeringkan rambut yang cukup basah, kini Arsen dan Nala telah duduk di meja makan. Nala menyiapkan sarapan yang tadi ia bawa untuk Arsen, sedang Arsen sibuk memandangi Nala dengan tatapan cinta nan memujanya.

“Udah. Nih, makan.” ucap Nala sambil menyodorkan piring ke Arsen. Sontak yang diperlukan demikian refleks tersenyum.

“Gak mau nemenin gue makan?”

“Kan ini udah ditemenin.”

Arsen menipiskan bibirnya lalu mencubit gemas pipi kiri Nala.

“Maksudnya tuh temenin makan. Ya kita sama-sama makan. Bukan gue doang yang makan, terus lo cuma ngeliatin gue makan, Nala.”

Nala pun tersenyum tipis diikuti gelengan kepala. “Nggak, buat lo aja, Sen. Gue udah kenyang kok.”

“Kenyang abis sarapan sama suami ya?” sindir Arsen lalu melahap sandwich dari Nala.

“Lo mau makan apa berantem?”

Arsen menahan tawa. Dia lalu menelan sandwich di mulutnya sebelum mendekatkan wajahnya dengan Nala. Arsen pun berbisik.

“Mau makan lo terus berantem di ranjang, Nal.” seringai Arsen.

“Masih pagi udah sange lo,” kata Nala lalu menoyor kepala Arsen.

Arsen hanya tersenyum sambil memerhatikan Nala yang kini berdiri dan meninggalkan meja makan. Nala berjalan ke arah kulkas sebelum akhirnya dia membuka lemari pendingin itu.

“Udah waktunya lo belanja lagi gak sih, Sen?” Nala menoleh ke Arsen sejenak. “Bahan makanan di kulkas lo udah hampir habis.”

“Mau belanja bareng?” tanya Arsen, sedang Nala nampak berpura-pura berpikir keras.

“Belanja bareng yuk,” ucap Arsen yang seketika mengubah tanya menjadi ajakan. Sontak hal itu membuat Nala terkekeh diikuti anggukan pelan dan senyuman.

“Tapi abis jemput Gavi ya?” usul Nala. “Dia juga mau ketemu lo.”

“Oke!”

Nala menahan senyum melihat ekspresi antusias Arsen sebelum kembali menoleh ke kulkas. Dia kemudian membuka freezer dan mendapati bahwa masih ada dua bungkus ice cream yang tersisa.

Nala pun mengambilnya sebelum menutup kulkas itu dan kembali mendaratkan bokong di samping Arsen yang telah menghabiskan sandwich buatannya. Nala lalu menyodorkan satu bungkus ice cream tadi ke Arsen dan berkata.

“Sisa dua di kulkas. Berarti buat dimakan berdua,” ujarnya yang membuat Arsen tersenyum lalu meraih ice cream pemberiannya.

Kedua anak manusia itu pun perlahan melahap ice cream mereka. Baik itu Arsen maupun Nala sesekali asik saling melirik sebelum sama-sama membuang muka sambil menahan senyum.

Atmosfer di meja makan itu pun seolah membawa mereka pada ingatan belasan tahun silam. Dimana Arsen dan Nala juga kerap memakan ice cream di sekolah sambil bertukar cerita.

“Nal, kalau dipikir-pikir… Genre percintaan kita tuh love and hate relationship banget ya dari dulu.”

“Lo inget gak sih yang pas gue ke ruang seni terus maksa anak-anak teater buat pulang?” kekeh Arsen. “Gara-gara itu lo ngamuk terus mulai gak suka sama gue.”

“Inget lah,” Nala tersenyum tipis. “Gue juga inget pas akhirnya kita mulai damai dan temenan gara-gara gue nolongin lo pas lo lagi dikeroyok sama si geng badung.”

“Mm, pas itu juga gue mulai suka sama elo.” ujar Arsen. “Gue jadi paham kalau lo itu keras di luar, tapi lembut banget di dalam. Dan elo masih gitu sampai sekarang.”

“Gue tau,” Nala senyum meledek. “Nggak lama setelah itu lo malah keluar dari OSIS terus masuk ke teater. Ketahuan banget lo lagi ngincer seseorang dan orang yang selalu lo intilin itu ya gue.”

“Lo juga tau gak, kalau lo nggak cuma bikin gue jatuh cinta sama pribadi lo, tapi juga ke acting?”

Nala mengangguk. “Tau. Gue liat kok gimana waktu itu elo serius banget buat belajar soal acting.”

“Makasih ya, Nal.”

Nala senyum, “Buat apa?”

“Buat semuanya, because you’ve given me everything that makes me happy.” ucap Arsen. “Cinta, impian, kesempatan buat jadi pribadi yang lebih baik, banyak.”

Nala hanya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum. Dia lalu meraih gawainya, mengarahkan kamera ke ice cream-nya juga Arsen yang saling bersentuhan hingga terdengar suara jepretan.

“Ngapain sih?” kekeh Arsen.

Nala tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis sambil melirik sesekali ke Arsen. Tidak lama setelahnya, gawai Arsen lantas berdenting. Saat itu pula dia meraihnya dan mendapati Nala mengirimkan foto itu padanya.

Namun yang membuat Arsen tidak bisa berhenti tersenyum adalah pesan yang ia sematkan.

Nala menulis, “Nala ❤️ Arsen.”

Arsen lalu kembali meletakkan gawainya di atas meja sebelum memusatkan atensinya ke Nala. Perlahan, Arsen mendekatkan wajahnya ke Nala. Mata Arsen pun tertuju ke bibir merah Nala yang seolah merayunya. Namun, belum sempat Arsen menciumi celah ranum itu, Nala telah lebih dulu menahan pergerakannya.

Nala meletakkan ice cream tepat di permukaan bibir Arsen sambil terkekeh kecil sebelum bersuara. “Katanya nunggu new year’s gift.”

Sontak Arsen memundurkan badannya diikuti helaan napas berat. Sementara Nala tertawa.

“Gimana cara gue ngelanjutin hidup sampai malam tahun baru tanpa nyium lo ya,” Arsen mulai dramatis, sama seperti biasanya.

Nala mendengus. Dia lalu meraih tangan kanan Arsen. Diciuminya punggung tangan Arsen sejenak hingga si empu tersenyum tipis.

“Lo aja bisa nunggu gue sampai tujuh tahun, masa nunggu satu bulan aja gak bisa?” ledek Nala.

Lagi, Arsen menghela napas. Wajahnya sudah amat pasrah.

“Kenapa juga ya gue bisa terjebak sama permainan tanpa dicium lo ini, Nal. Belum sehari udah stres.”

Nala menahan tawanya sebelum melanjutkan agenda memakan ice cream. Dia lalu bersandar di bahu Arsen yang masih gusar.

“Sen?”

“Apa?”

“Dengerin baik-baik.”

“Apa yang mau didengerin?”

Nala pun berhenti memakan ice creamnya sejenak. Ia mendongak ke arah Arsen sebelum bersuara.

I love you.”

Arsen pun mati-matian menahan senyum. Dilahapnya ice cream yang masih tersisa dalam sekali suapan saja. Sebab, jika Arsen tak melakukan itu. Sudah pasti saat ini dia telah meciumi Nala rakus.

Nala yang tadinya sudah sedikit lega karena Arsen tidak benar-benar datang beberapa menit sejak chat terakhirnya justru dibuat mendengus. Pasalnya, pintu kamarnya tiba-tiba saja diketuk dari luar. Sudah pasti sosok di luar sana adalah Arsen, pikir Nala sambil bangkit dari ranjangnya. Nala kemudian membuka pintu, namun tidak lebar-lebar. Hanya ada celah untuk satu mata Nala mengintip di sana sampai dia melihat Arsen.

“Lo ngapain, Nal?” Arsen tertawa kecil melihat Nala mengintip dari celah pintu. “Buka pintu lo dulu.”

“Gue tau lo gila, tapi bisa gak, lo gak mikir gila sekarang? Jangan di sini. Jangan sekarang, Arsen.”

“Gue cuma minta lo buka pintu, Nal. Gue mau nunjukin sesuatu.”

“Awas ya kalau lo boongin gue.”

“Enggak. Janji,” kata Arsen.

Nala akhirnya membuka pintu lebar-lebar. Saat itu pula Nala mendapati Arsen yang telah memakai piyama berdiri tepat di hadapannya. Senyum tipis pun merekah di bibir Nala ketika dia menyadari bahwa Arsen tengah memakai sendal karakter sapi darinya. Nala membeli sendal itu sebagai ucapan selamat karena Arsen pindah ke rumah barunya.

Hal lain yang juga mencuri perhatian Nala adalah ketika matanya tertuju pada segelas susu yang Arsen bawa. Nala pun tersenyum lembut saat sang mantan pacar menyodorkan susu itu padanya dan berkata.

“Nih, diminum. Biar lo ngantuk.” kata Arsen. “Jangan begadang.”

“Makasih ya,” ucap Nala setelah meraih susu pemberian Arsen.

“Mhm,” Arsen ikut tersenyum. “Anyway, gimana menurut lo?”

Nala terkekeh melihat kaki kiri Arsen menepuk-nepuk lantai. Membuat karakter sapi pada sendalnya ikut bergerak-gerak.

“Lucu,” puji Nala. “Cocok sama lo yang kalau ngamuk kayak sapi.”

“Emang sapi kalau lagi ngamuk gimana sih?” Arsen penasaran.

“Lo ngaca aja, terus peragain pas lo ngamuk kalau lagi posesif ke gue. Nah, sapi ngamuk kek gitu.”

Kedua anak manusia itu pun sama-sama tertawa kecil. Baik itu Nala maupun Arsen berusaha untuk memelankan suara mereka agar orang lain tidak terbangun.

“Ya udah, gue balik ke kamar ya. Lo minum susu gih, terus bobo.”

Baru saja Arsen hendak berbalik dan meninggalkan area kamar si mantan pacar, Nala justru tiba-tiba mencengkeram piyamanya dengan satu tangan yang tidak memegang segelas susu. Sesaat kemudian, Nala mendongak lalu mengecup lembut bibir Arsen dengan mata yang terpejam.

Kecupan Nala itu lantas bertahan selama beberapa detik sebelum dia beralih menatap Arsen lamat.

Sleep well,” bisik Nala.

Arsen mengangguk kecil. Dia lalu memiringkan wajahnya sebelum menciumi pipi kanan Nala. Arsen kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Nala diikuti bisikan.

“Kalau kita udah nikah nanti, gue bakal nemenin lo tidur di sini. Di kamar kita,” katanya lalu kembali menatap wajah Nala. “Sleep well.”

“Mm, night.”

Good night, love.”

Nala menahan senyum sebelum berbalik lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Saat itu pula Nala menyandarkan punggung di daun pintu sambil menatap susu yang dia pegang dengan senyum tipis di bibirnya.

Tak jauh berbeda dengan Arsen yang juga masih berdiri di depan kamar Nala. Lelaki itu pun kini tidak bisa berhenti tersenyum sambil memandangi daun pintu.

Sepulang Bagas dari rumah lama Nala yang sekarang menjadi milik Arsen, dia lantas mampir ke klub. Bagas merasa butuh sedikit efek alkohol untuk mengusir rasa di dadanya yang cukup menganggu.

Meski Bagas sudah mulai belajar untuk menerima kekalahannya atas Arsen, namun dia pun tidak bisa berbohong jika hatinya yang patah masih meninggalkan luka. Alhasil, Bagas yang tidak ingin sakit itu berlarut-larut lantas memilih alkohol sebagai pelarian.

Begitu masuk ke dalam klub dan hendak memesan satu minuman kesukaannya, atensi Bagas justru tertuju kepada seorang pria yang sedang duduk sendirian di sudut keramaian. Alhasil, Bagas lantas menghampirinya lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya.

“Jadi ini urusan lo yang tadi lo bilang di rumah Arsen?” tanya Bagas yang sontak membuat lelaki itu menoleh dan kaget.

“Kok lo tau gue ada di sini sih?” tanya Endra yang baru tersadar bahwa ada Bagas di sampingnya.

“Tadinya gue gak tau, tapi pas gue masuk, gue langsung liat lo.”

“Oh,” respon Endra singkat lalu menegak habis alkohol di meja.

“Lo ada masalah apa?”

Endra mendengus pelan diikuti senyum tipis. “Emangnya gue keliatan lagi ada masalah ya?”

“Semua orang yang datang ke club punya masalah,” kata Bagas.

“Gak cuma yang ada di club aja sih sebenarnya. Setiap manusia juga punya masalahnya masing-masing kan?” timpalnya. “Tapi sebagian ada yang memilih ke club buat nyari pelarian sesaat.”

Endra kembali menoleh ke Bagas lalu bertanya. “Lo sendiri lagi ada masalah apa sampai lo ke club?”

“Klasik,” kekeh Bagas. “Gue ke club karena lagi patah hati.”

“Karena Nala udah sama Arsen ya?” Endra tersenyum meledek.

“Kok lo tau sih?”

“Tau lah, keliatan kok kalau lo suka sama Nala.” sahut Endra.

“Tapi lucu juga ya,” timpal Endra. “Alasan gue ke club sama kek lo, terus sekarang kita ketemu gini.”

Bagas menopang kepalanya di atas meja sambil menatap Endra. “Siapa yang bikin lo patah hati?”

“Lo gak perlu tau,” kekeh Endra lalu melihat meja di hadapan si asisten sutradara masih kosong. “Kok lo gak pesen minum, Gas?”

“Mau minum bareng gue?”

Endra menggeleng. “Gue musti pulang. Gue ngantor besok pagi.”

“Lo gak mabuk kan tapi?”

“Gak,” kata Endra. “Gue duluan.”

Endra pun hendak bangkit dari kursi. Namun, kakinya justru tiba-tiba terasa keram hingga dia mendesis. Bagas pun buru-buru berdiri lalu menahan tubuhnya.

“Lo gak apa-apa?”

“Mm, gue gak apa-apa,” Endra melepaskan tangan Bagas dari tubuhnya. “Kaki gue kram tadi.”

“Gue anterin lo pulang ya, Ra?”

“Gak usah.” tolak Endra. “Orang gue gak kenapa-kenapa juga.”

“Lo minum berapa banyak tadi?”

Endra menelan ludah. “Dua.”

“Gelas?” Bagas memicing.

“Botol.”

Menghela napas panjang, Bagas lantas menuntun lengan Endra agar mendarat di atas bahunya.

“Gue anterin.”

“Gue bawa mobil, Gas.”

“Iya, biar gue yang nyetir.”

“Terus mobil lo gimana?”

“Gampang, gak usah dipikirin.”

Endra pasrah. Dia pun mengikuti langkah Bagas yang kini telah menuntunnya keluar dari club.